Langsung ke konten utama

Generasi Muda Hebat

"Menciptakan generasi muda yang merangkul semesta dan mendobrak reformasi bangsa."

Kata kunci : 
Generasi Muda, Semesta, Reformasi, Bangsa

Dikisahkan bahwa khalifah 'Umar bin Khattab Ra, apabila memiliki/mendapatkan suatu persoalan yang besar selalu memanggil/merundingkannya bersama para pemuda. Presiden pertama RI Bpk. Soekarno mengatakan "Beri aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia." Pada masa kenabian Nabi Muhammad Saw., para pemuda seringkali berada di garda terdepan dalam membela Rasuulullaah SAW., menegakkan syari'at Islam, dan memperjuangkan Maruah Islam (seperti : 'Ali bin Abi Thalib, 'Abdullaah bin Mas'ud, Sa'ad bin Abi Waqqash dan para sahabat yang lainnya). Begitu besarnya peran pemuda dalam perjuangan Islam dan bahkan NKRI (sampai-sampai lahirlah sumpah pemuda).

Pemuda selalu mudah dalam mencerna berbagai persoalan secara baik karena memiliki pemikiran yang masih segar/fresh, sehingga mudah dalam menerima hal-hal baru dan menyaringnya secara benar. 

Sebenarnya tugas mencipta adalah kemampuan Allaah SWT. Manusia hanya berusaha untuk membangun kemungkinan2 terbentuknya suatu generasi yang unggul dan utama.

Kunci utama dalam membentuk generasi muda yang hebat adalah Pendidikan; Penanaman; dan Pembentukkan nilai karakter Islam yang kental dan erat dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan berpegangnya para pemuda terhadap Al-Qur'an dan Sunnah maka insyaa Allaah., akan terbentuk generasi yang hebat; kokoh dalam mempertahankan prinsip ('aqidah) ; senantiasa berfikir jernih dan maju; optimis; dinamis; dan jujur.

Islam mengajarkan banyak hal pada penganutnya, segala pengetahuan yang ada di kehidupan ini 100% telah disinggung di dalam Al-Qur'an. Tinggal kembali kepada kita lagi bagaimana mengupayakan terealisasinya pengetahuan tersebut dengan berdasarkan akal yang telah dikaruniakan Allaah SWT., kepada kita.
Pemuda adalah salah satu aset terbaik negara. Pemuda yang bertindak dengan berdasarkan hukum-hukum Allaah SWT., tidak hanya dapat meraih semesta dunia, namun juga semesta akhirat. Bersabda Rasuulullaah SAW.,

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

"Barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah berilmu (dengan ilmu). Dan barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan ke duanya (dunia + akhirat), maka hendaklah dengan ilmu."

Islam adalah agama yang kaffah (sempurna), segala hal yang ada di kehidupan ini telah dirangkum di dalam ajaran Islam. Oleh karena itulah Rasuulullaah SAW., bersabda bahwa untuk beroleh dunia dan akhirat harus dengan ilmu, yakni ilmu syar'i yang sesuai tuntunan Islam. 

Itulah kuncinya, apabila ingin membentuk generasi muda yang unggul, haruslah dengan menanamkan nilai-nilai Islam dan transformasi ilmu pengetahuan yang mendukung kemajuan berfikir (dengan berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah). Dengan begitu, maka setiap orang tua dan negara dapat melahirkan bibit unggul pemuda-pemuda yang kompeten, berkualitas dan berkuantitas baik, yang tidak hanya mampu merangkul semesta dunia namun juga semesta akhirat. Bukan hanya pemuda-pemuda yang mampu mendobrak reformasi (pembaruan / perbaikan / restorasi) bangsa, namun juga mampu mewujudkan masyarakat Madani dan menyatukan kemajemukan bangsa yang beragam; membangun kesejahteraan bangsa dan negaranya; serta mengadakan reformasi universal dalam segala aspek kenegaraan. Tentunya, dengan berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Sabda Rasuulullaah SAW., "Telah aku tinggalkan bagi kalian 2 perkara, apabila kalian berpegang teguh pada keduanya tidak akan tersesat selamanya. Yakni kitab Alaah SWT (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul-Nya (Hadits).

Mohon maaf apabila tidak ada sumber, karena ini pemaparan berdasarkan apa yang ana ingat dari apa yang ana pelajari.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Firqah Khawarij

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak islam lahir sampai kepada masa kekhalifahan Usman bin Affan merupakan satu kesatuan politik dan wilayah yang jelas dibawah seorang kepala negara, atau khalifah yang sekaligus sebagai imam. Tetapi dengan peristiwa tahkim (yang terjadi pada saat perang siffin) yang demikian berarti dunia islam telah terpecah menjadi dua wilayah dan kekhalifahan: imam Ali ditimur- semenanjung Arab, Irak dan Persia, dan Mu’awiyah dibagian barat- meliputi Syam(Suria) dan Mesir. Sudah tentu hal ini membawa terpecahnya umat Islam yang berakibat jauh dalam sejarah. Pertentangan dalam pengikut-pengikut Imam Ali (pada saat memutuskan untuk menerima tahkim atau tidak menerimanya) ini telah melahirkan dua golongan yang saling berlawanan. Satu golongan setuju dengan keputusan tahkim dan golongan yang lain menentang persetujuan itu dan menuduh lawan mereka kafir. Dari peristiwa itu kemudian lahir dua golongan dari rahim yang sama: satu golonga...
  By Khairunisa Widiastuti Pontianak, 23 Oktober 2021 (07.37 WIB)   Dilarang Fanatik   Kepercayaanku pada kata-kata ‘alim dan ‘ulama.. Mereka yang manut pada firman Rabb-Nya.. Pada sabda Nabi-Nya.. Dan pada ijma’ para ‘ulama lainnya.. Tidak senang berdebat dan mematahkan yang lain.. Selalu memberikan pesan-pesan hikmah.. Dan kajian ilmu yang berdasar pada hujjah nyata.. Tutur katanya terarah, begitupun sikapnya.. Pandangannya teduh.. tertunduk sesuai perintah Rabb-Nya.. Menunduk pada setiap hal haram, yang mata dilarang untuk melihatnya.. Menunduk pada setiap hal bathil, yang telinga dilarang untuk mendengarnya.. Akhlaqnya luar biasa.. Dapat dirujuk sebagai publik figur yang baik.. Pada mereka ditemukan suri tauladan.. Sebagaimana tauladan para Nabi terdahulu..   Mereka yang selalu mengingatkan.. Bahwa mencari ilmu bukanlah untuk menambah amunisi dalam mendebat yang lain.. Mencari ilmu bukan untuk menunjukkan bahwa penget...
Pontianak, 29 Maret 2018                             Oleh : Khairunisa Widiastuti   LELAH SI PEJUANG MUDA Bekas-bekas guratan penanya Diam berbaris diatas lembar-lembar putih Bukti asa dan suka yang dilewati Meski waktu diam membisu tak berbicara Cukuplah tinta sahaja yang membuktikan Tak mengapa jualah Toh, dia hanya seorang pejuang muda Yang tak ingin berhenti berkarya sampai akhir lelahnya Guratan penanya yang tak pernah terhapus Bakal jadi saksi perjuangan bisunya meski tiada banyak yang tau dia tau bahwa all Ā h maha tau tinta-tinta yang telah mengering kini telah menjadikan senyuman manis diwajah bekas guratan tintanya tidak hanya berbekas di atas lembaran putih namun juga   ukirkan bahagia di qalbu All Ā h... Bilakah masanya... asanya berganti buncahan kesuka citaan Oleh lembaran-lembaran yang l...